dorami

banner image

Sajak "Omong-Kosong"

Aku tulis sajak ini
Di antara jutaan dinding dunia maya
Terselip tak nampak di tengah hingar bingar
Karena Tuan, Nyonya, sudah kebal telinganya
Tidakkah Anda lihat
Dulu, orang-orang masih malu mengaku jadi pencuri
Hari ini, mereka justeru punya serdadu
Pengacara, hakim, bahkan jaksa
Masih kurang gagah, mereka bisa punya dukungan partai
Dibeli lewat transaksi sebelum pemilu

Kita bicara omong-kosong apa hari ini?
Mulai dari bibitnya, penegak hukum gudang masalah
Suap dan sumpal tidak malu lagi dibicarakan
Jadi petugas rendah saja mesti bayar
Kantor polisi jadi tempat pungli massal

Jalanan menyimpan saksi bisu menyogok
Tahu sama tahu antara mahkluk manusia
Hingga jangan-jangan setan pun jengah melihatnya
Kita bicara omong-kosong apa hari ini?
Orang-orang lemah hancur lebur di depan keadilan
Tapi orang-orang berkuasa justru terbahak
Menjadikan palu sebagai dudukan klosetnya
Dan toga sebagai pengganti tissunya
Semua ayat-ayat hukum bisa ditafsirkan semaunya
Buah jeruk bisa disebut durian jika mereka mau
Dan besoknya, durian bisa disebut manggis
Terserah mereka saja
Kita bicara omong-kosong apa hari ini?
Orang-orang mencuri bukan lagi karena kelaparan
Mereka kenyang dengan makanan lezat
Rumah dan mobil-mobil mewah
Pakaian gemerlap sepatu kemilau
Dengan gaji-gaji tidak terbayangkan
Tapi mereka terus serakah merasa kurang
Rakus sekali seperti virus mematikan
Mengunyah apa saja di sekitarnya
Kita bicara omong-kosong apa hari ini?
Sementara ratusan ribu kilometer jalan-jalan berlubang
Jembatan-jembatan ambruk
Kelas-kelas sekolah tumbang
Belum lagi yatim-piatu putus sekolah
Fakir miskin yang hanya makan beras sisa
Ketimpangan di mana-mana

Tidakkah Anda lihat
Semua masalahnya berakar pada pohon yang sama
Sejak dulu hingga hari ini
Ketika penguasa negeri yang dipilih rakyat
Pengecut melawan para pencuri
Sialnya, malah melindungi dan menjadi bagian dari mereka
Tak nampak nyali
Bahkan membicarakannya saja sudah tak sudi lagi

Aku tulis sajak ini
Di antara jutaan dinding maya
Di tengah kegalauan tiada ujung penegakan hukum negeri ini
Apakah Tuan, Nyonya masih punya nurani?
*Tere Liye
============================================================================
Sajak yang menarik.. berfikir tentang segala aspek yang terjadi belakangan ini
semuanya ambruadul dengan sisstem yang tak jelas, dengan segla kekacauan pada negeeri kita
dengan besarnya omong kosong, yang berkuasa dan kebusukan terlindungi hukum..
Dimana hati tak lagi ditempatnya.. dimana 
ini bukan fenomena dimana seseorang malu untuk bebuat kecurangan..hanya.. segelintir manusia yang masih memegang prinsip tentang sebuah "kejujuran" 

Manusia sekarang..
Lebih seperti "kera" rakus! apa saja, punya siapa saja, mereka tak perduli..yang penting perut mereka..
gaya hidup terpenuhi..
tak pernah takut dengan kehidupan akhirat.. esensi hidup mereka adalah bagaimana kekuasaan, kekayaan menjadi pondasi.. mereka tak akan perduli tentang tangisan bayi yang kelaparan, fakir miskin yang dijalan memakan sampah.. sekolah yang ambruk..jalan yang berlubang n sulit sekali dilewati, kebutuhan pokok  yang semakin melambung tinggi..

Para pemimpin dinegeri kita..
hanya perduli dengan rasa "Gengsi" tersenyum mendapatkan kerja sama dengan negara adidaya, dengan negara yang mempunyai teknologi yang canggih.. yang katanya demi kemajuan rakyat..
sebentar..sebentar.. logika siapa itu?? bukankah itu akal-akalan saja.. itu proyek katanya, "persentase" hasil kerjasama itulah yang mereka incar.. tentang kesejahteraan?? huh omong kosong!! itu kamuflasse!! itu hanya sebuah manipulasi..

dan  kita...
terlalu lelah mendengarkan omong kosong.. terlalu lelah untukpercaya pada pemimpin kita..
terlalu muak!! terlalu muak!! terlalu malu untuk hanya sekedar melihat berita-beritatentang negeri..
dan.. haruskah, Nasionalissme kita tergadai?? haruskah??
AAhhhhh entahhhlahhh..

Air Paoh, 26 Maret 2015 (21.47)

Sajak "Omong-Kosong" Sajak "Omong-Kosong" Reviewed by Ica Dorami on March 26, 2015 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.